Cita-cita seorang anak…
Q1: “mummy, my friend aily wants to be a policewoman when she grows up”
me: “ehmm..that’s nice! what about you?”
Q1: “I wanna be a simple man, just like …… my daddy!!” Go to work in the morning and come home at nite. But…. not too late like he did!”
me: *just smile…*
Itulah sepenggal pembicaraan saya dengan Qurratayun anak saya yang sebentar lagi menginjakkan usianya yang ke 6. Tak terasa waktu bergulir seperti air….masih teringat ketika dia mulai bisa menyebut kata mummy….. daddy….. sekarang ini dia sudah bisa berfikir akan jadi apakah dia di masa depan nanti. Terketuk juga hati saya sewaktu mendengar “kalimatnya” itu. Cita-cita yg selama ini jarang saya dengar keluar dari mulut seorang anak. Kadang terpikir oleh saya bahwa dia akan bercita-cita menjadi seorang “astronomer” melihat betapa tekunnya dia membaca dan mempelajari buku-buku tentang angkasa luar. Atau kadang2 terlintas bahwa suatu waktu dia ingin menjadi seorang “architect” karena terampilnya dia membangun sesuatu dari permainan legonya.
Tetapi pada kenyataannya, apa yang akan kita terima tidaklah selalu apa yg kita inginkan.
Terbukti bahwa cita-cita yang diatas tadi hanyalah cita-cita yang berasal dari pemikiran saya, pemikiran orang tua yang pada dasarnya menginginkan anaknya untuk menjadi “seseorang” menurut keinginannya. Dan kadang terlepas dari kemauan sang anak itu sendiri. Tidak jarang kita sebagai orang tua tanpa disadari mengabaikan “hak sang anak” dalam menentukan keinginan dan kebahagiannya kelak dikemudian hari. Kadang kita orang tua terlupa akan hal itu……
Dengan senyuman di bibir saya memandangi tubuh kecil itu yang asyik bermain, tidak terlintas sedikitpun kekecewaan dihati mendengar cita-citanya, malah membuat hati saya terharu karena dia dapat menunjukkan penghargaan yang dalam terhadap apa yang orang tuanya kerjakan, menjadikannya sebagai ‘idola’ sehingga kelak ……. he wants to be a simple man, just like his daddy!!






