September 7, 2005

Slamat tinggal “sahabat!”

Yesss…yess… yesss… setelah sekian lama [19 bulan] akhirnya kami semua bisa mengakhiri ‘pergulatan’ dengan kebiasaan yang kata orang paling susah untuk menghentikannya.
Ceritanya begini, sejak lahir Qiratullah itu punya habit yang amat sangat mengganggu. He’s a Thumb sucker! Aduh..udah segala macam cara saya coba untuk memberhentikan dia dari ngisap jempol tapi tidak ada yg berhasil. Mulai dari ngasih cairan yg super pait sampai ngasih cabe rawit, semuanya gagal total. Malah sekarang untuk anak seumur dia bisa termasuk anak yang kuat makan makanan yang pedas. Lalu saya pernah nyari ke internet bagaimana cara menghilangkan kebiasaan ini dan semuanya juga tidak membuahkan hasil. Qiratullah tetap saja mengisap jempolnya. Ada seorang kawan yg menyarankan untuk menggunakan plaster, karena salah seorang dr anak kawannya bisa dihentikan dengan cara itu. Saya pun mencoba tetapi ada aja akalnya si beibi satu ini. Setelah saya plaster jempolnya dan kadang-kadang malah kelimanya eehhhh……bisa juga dilepasnya plaster itu. Akhirnya saya pun pasrah…..rah…rah…rah….!!
Sampai akhirnya jum’at malam kemarin ada saudara datang dari jakarta. Kami bercakap2 di ruang tamu dan seperti biasa qiratullah mondar mandir dengan kebiasaanya megisap jempol.
Sang suami berkata: “wah dulu anak kami yang pertama juga punya kebiasaan seperti qiratullah ini, tetapi akhirnya bisa kami hentikan.”
saya: “aahhhhh…gimana caranya bang? saya udah coba semua cara tapi ngga ada yg berhasil!”
sang suami: “Abang sentil sekeras2nya dan setelah itu dia kaget, nangis dan kebiasaanya pun hilang!”
saya: “disentil aja dan langsung bisa stop??!!”
sang suami: ” iya…sentil tapi yang bener2 keras jadi dia tauh klo itu sakit dan tidak boleh dilakukan, Insya Allah nanti bisa berhenti.”

Setelah saudara kami itu kembali ke hotel mereka, saya pun bertekad akan melakukan apa yg si abang tadi katakan. Saya berkata dalam hati, kalau kita sentil sang anak bukan berarti kita termasuk orang tua yang ’sadis’ . Tetapi ini buat kebaikan sang anak sendiri. Bisa dibayangkan khan, jari jemari itu amat sangat kotor. Kuman melengket dari mana-mana, dan setelah itu si jempol masuk pula di mulut! Aiiiihhh…ngga kebayang khan!!
Tidak beberapa lama qiratullah pun memasukkan seperti biasa jempolnya ke mulut dan dengan tanpa dia sadari saya pun melakukan aksi ‘itu’ dengan keras [karena ngga tega saya tutup mata :) hihihihiii]. Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi setelah itu ……… wwwuuuaaaaahhhhhhhh ………. wwwwuuuuaaaahhhhhhhhh!!
Klo si abang membutuhkan 1 kali sentilan buat sang anak [mungkin karena tenaganya beda kali yee] sedangkan saya membutuhkan 5 kali sentilan. Akhirnya terhitung mulai hari jum’at malam itu hingga selasa malam sedikit demi sedikit qiratullah bisa mengatakan ……… selamat tinggal jempol!!!

copyright © 2005 cahayamata